Tim Kreatif Payungi Ciptakan Ilustrasi “Pay & Ungi” Menjadi Produk Animasi Andalan

Penulis : Dharma Setyawan (Penggerak Pasar Yosomulyo Pelangi)

Akses-Berita.com – Kami memulai lagi ilustrasi Pay & Ungi. Tokoh Pay adalah anak laki-laki Lampung yang pandai , ramah, kreatif, mudah bergaul dan mencintai budayanya. Pay menggunakan ikat kepala seperti Radin Inten. Tokoh Ungi adalah anak perempuan yang menemani Pay bermain. Dia lembut, suka belajar, dan ahli memainkan berbagai permainan tradisional.

Nadzif Fajar sedang berpikir tokoh-tokoh lain untuk menemani ilustrasi Pay dan Ungi. Saya juga sudah membuat lagu anak-anak berjudul Pay & Ungi. Tim kreatif lain sedang berjuang, belajar bersama-sama sampai Pay & Ungi menjadi produk animasi. Ilustrasi ini membutuhkan waktu panjang untuk menjadi gambar yang bergerak. Jika Malaysia punya Upin dan Ipin, kami di Kota Metro khususnya warga Yosomulyo punya Pay & Ungi.

Berbagai produk ekonomi kreatif dari maskot ini akan kami buat dalam berbagai bentuk merchandise. Boneka, Kaos, Pin, Gantungan Kunci dan sebagai produk digital art, Pay & Ungi diharapkan semakin mengokohkan identitas budaya. Ada banyak hal yang dapat disampaikan melalui kartun animasi Pay & Ungi. Misal melalui lagu dan video tentang pentingnya menjaga lingkungan, mengelola sampah, budidaya lebah, ayo berkebun, berternak, cintai produk dalam negeri, sayangi kota, ayo bersepeda, dan kampanye-kampanye penuh nilai.

Pemuda lain yang terus belajar menggambar ilustrasi ada Alvin Fath dan Edi Susilo. Mereka mulai menyadari bahwa menggambar tidak hanya di kertas dan di tembok. Produk-produk ilustrasi dan animasi di masa depan sepertinya terus menjanjikan. Contoh Nusa dan Rara juga banyak mengajarkan anak-anak kecil tentang doa-doa dan ritual keagamaan. Penghasilan Nusa dan Rara dari YouTube cukup menggiurkan, bahkan sudah dikontrak stasiun televisi. Pay dan Ungi harus belajar dari banyak contoh di atas.

Gerakan pemberdayaan bukan program negara yang high cost dan low impact. Dalam Buku Mereka Yang Terjaga (Bappenas,2020), Budiman Sudjatmiko menyebutkan,” negara selama ini hanya dua yang dilakukan yaitu piloting dan event organizing. Pendekatannya formalistik dan penekanan pada anggaran. Pengguntingan pita dianggap sebagai puncak karena menandakan anggaran sudah terserap. Biaya tinggi, ada perjalanan dinas, bayar konsultan dan lainnya.”

Maka harus ada lapis kedua yaitu kaum profesioal. Sebagaimana gerakan awal ini gotong royong, maka pemberdayaan punya peta jalan dalam melibatkan dua hal Enterpreneur dan Cummunity. Dua entitas ini dapat bergerak karena kesadaran, low cost dan high impact. Mereka fokus pada pembangunan ekosistem. Komunitas punya pendekatan kerewalanan (voluntary). Mereka bukan hanya punya dana tapi juga punya modal sosial. Maka tantangan kota kreatif adalah mempertemukan program pemerintah dan komunitas kreatif. (*)

 103 total views,  1 views today