Gerakan Ekonomi Kreatif Kampus

Penulis : Mustika Edi Santosa (Direktur Sekolah Desa Payungi University)

Kota Metro – Prodi Ekonomi Syariah IAIN Metro menjadi salah satu prodi yang ikut andil dalam mengembangkan Ekonomi Kreatif (Ekraf). Hal ini sekaligus menepis anggapan bahwa lulusan Ekonomi Syariah hanya akan memadati lowongan pekerjaan di sektor formal, seperti menjadi karyawan BMT, Bank, dan guru.

Tahun lalu (2019) Prodi Ekonomi Syariah me-launching kegiatan ESy Talkshow. Kegiatan ini merupakan upaya dari Ketua Prodi Dharma Setyawan, MA dalam menjaring alumni yang berkecimpung di bidang Ekraf, khusunya Industri Kreatif. Disamping itu, ESy Talkshow ini berupaya memberikan perspektif baru dan feedback bagi mahasiswa agar mau mendorong dirinya terjun ke dunia Industri Kreatif.

Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) – kini digabung dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif – menjabarkan tidak kurang dari 16 Sub-Sektor Industri Kreatif yang dapat dikembangkan dan dioptimalkan perannya. Enam belas Sub-Sektor tersebut terdiri dari Aplikasi dan Pengembangan Permainan; Arsitektur; Desai Produk; Fashion; Desain Interior; Desain Komunikasi Visual; Seni Pertunjukan; Film, Animasi, dan Video; Fotografi; Kriya; Kuliner; Musik; Periklanan; Penerbitan; Seni Rupa; serta Televisi dan Radio.

Setidaknya, Ekraf hingga saat ini telah memberikan banyak kontribusi bagi perekonomian negara. Berdasarkan data yang dihimpun dalam OPUS Ekonomi Kreatif tahun 2019, Ekraf berkontribusi pada kenaikan angka PDB Nasional sebesar 1,105 Triliun. Kontribusi sektor ini telah membawa Indonesia pada posisi ketiga setelah Amerika dan Korea Selatan dalam jumlah kontribusi terbanyak dibidang Ekraf terhadap PDB negara. Ini artinya sektor Ekraf memiliki peluang yang besar dalam menopang ekonomi negara, sehingga perlu adanya dorongan dan partisipasi aktif baik dari pemerintah selaku regulator maupun warga masyarakat sebagai pelakunya.

Risa, Nadzif, Uswah dan Dita merupakan alumni Prodi Ekonomi Syariah tahun ini yang menggeluti sektor Industri Kreatif. Mereka menjadi contoh protret mahasiswa yang ikut berperan dalam pengembangan Industri Kreatif, baik di tingkat kampus IAIN Metro maupun di Kota Metro.

Risa menjadi salah satu mahasisnya yang ikut dalam pengabdian masyarakat di Dam Raman, di mana ia bersama mahasiswa lainnya melakukan gerakan ekowisata pengembangan kawasan Dam Raman. Disamping itu, kini ia juga sedang memulai bisnis kuliner.

Kemudian, Nadzif. Ia merupakan mahasiswa yang tidak hanya bergelut pada teori-teori ekonomi syariah, namun juga melakukan kerja-kerja kreatif sebagai seorang Ilustrator. Banyak projek ilustrasi – seperti komik dan film animasi — , baik dalam negeri maupun luar yang telah ia garap dengan nilai puluhan juta. Lalu ada Uswah, mahasiwa cantik dan progresif ini banyak menggeluti sektor-sektor industri kreatif, seperti kuliner, jasa make-up, dan model beberapa brand lokal. Dan, yang terakhir adalah Dita. Lulus sebagai sarjana Ekonomi Syariah di tahun 2020 tidak membuatnya harus ‘pusing’ mencari pekerjaan seperti mahasiswa fresh graduate pada umumnya. Sejak awal masuk kuliah ia telah menggeluti bisnis jasa Florist dan Henna. Tidak tanggung-tanggung, pendapatan yang bisa ia kumpukan setiap bulannya mencapai 2 – 3 juta. Kini, ini sedang mengembangkan usahanya agar menjadi lebih besar. Terutama ia ingin mengembangkannya menjadi usaha Jasa Dekorasi Pernikahan (Wedding).

Mengenyam pendidikan di Prodi Ekonomi Syariah, bukan berarti harus menyempitkan peran sebagai pelaku ekonomi. Terdapat banyak sektor Ekonomi Kreatif yang bisa dikembangkan dan digeluti sejak dini secara konsisten. Hal ini selain melatih kemandirian dari calon-calon sarjana muda Ekonomi Syariah, juga akan memberikan sumbangsih bagi ekonomi lokal. Selain itu, jika semakin banyak anak-anak muda mau menggeluti Industri Kreatif, maka juga akan semakin banyak lapangan pekerjaan yang bisa dibuka. Artinya, dengan banyaknya lapangan pekerjaan, makan akan ada banyak warga masyarakat yang bisa bekerja sehingga angka pengangguran dapat ditekan.

Peran kampus dalam mendorong geliat Ekraf harus dioptimalkan. Hal ini sebagai upaya kampus sebagai fasilitator di bidang pendidikan untuk mendorong anak-anak muda agar mau menggeluti dunia ekonomi kreatif. Pasalnya, kedepan Ekraf akan menjadi penopang ekonomi nasional melihat potensi pada sektor ini cukuplah besar. Tentu kampus tidak akan bisa berdiri sendiri. Sehingga kampus harus lebih terbuka dan mau berkolaborasi dengan pemerintah, komunitas, pelaku industri kreatif, dan memaksimalkan kemajuan teknologi yang ada. #BanggaESy

 108 total views,  1 views today